I have to

It’s hard, doesn’t mean impossible.

I know it’ll take hundred of years, just like I’ve wasted when hoping her back.

It’s simple, yet so vulnerable.

Once her name cross my mind, thousand memories would catching up before swearing how dumb I was.

It’s right, in other hand so wrong.

What if she wants to get back? What if I stand on the wrong side? What if, she remains to hold her feelings? and another scene packaged my mind to keep trapped in here.

I know it’s been a long time, and now I have to leave this funeral.

Meringis

Cinta itu lucu.

Saat dicari dan dikejar mati-matian, terkadang cinta malah melangkah anggun menjauhi kita. Namun saat terlalu berharap dengan satu cinta, cinta yang lain muncul dengan santai, menarik perhatian kita, bukan dengan nafsu namun dengan kedamaian.

Tak apa, lucu saja tidak cukup untuk mencintai seseorang—setidaknya menurutku.

Atau mungkin menurutnya?

Atau kita semua?

A mess

I love every single detail about our memories. How long we could talk each other by phone, talking kinky things then heard other breathe fall asleep. Your nyinyi voices talk about your childhood, such a dog that you missed until now, a creepy experience from a spirit comes to your house–which I’ve never been excited at that moment, unfortunately I really curious with those. I remember your story being a bad ass to your ex (I’m jealous and stunned at the same time, at least you know that guy do not deserved to be your man).

I don’t know how long this would be happen. Feeling sucks and random thoughts along the night always succeed make me stay awake. I hope you’re not same as like me, but if you do, please don’t afraid to talk with me. Because the first thing cross my mind when open my eyes, it is how I could talk with you, again.

It’s around 2 a.m. when I write this post. I can’t remember how many words I erased till this final post was updated. The only thing I remember just you. Literally.

If only you’ve seen my life without her, then it would be one hundred billion times messier than grammar in above writings.

Collapsed, yet without him

“Aku tak ingin sendiri, setidaknya ketika masih banyak keindahan dunia untuk disaksikan. Aku wanita bodoh, bahkan untuk menjaga sebuah perasaan saja tidak bisa. Gelak tawa di sudut cafe hingga malam, kerutan dahi yang muncul ketika kita tidak saling paham bahkan hingga nafas yang beradu dengan peluh mengkilap di dalam kamar. Aku merindukan itu semua.

Terserah kalian bilang apa! Kalian tidak tahu seberapa spesial dia untukku! Kalian hanya penonton, penonton yang bahkan tidak mengambil bagian dari setiap ciuman kami. Kalian tidak merasakan denyutan serta deru nafas silih berganti. Saat pandangan diakhiri dengan sebuah kemesraan.

Aku tidak ingin diingat oleh sesuatu yang bukan semestinya. Aku ingin memperbaiki semuanya. Bercerita denganmu sampai malam hari, menemanimu bermain bola walau aku tidak mengerti apa itu offside, atau mungkin mendengar leluconmu yang kau dapat dari internet, aku akan terus tertawa dan menganggap itu adalah leluconmu. Aku akan melakukan semuanya. Hanya untuk memastikan bahwa kau tidak merasa diabaikan olehku. Sebagaimana kata terakhirmu saat pergi meninggalkanku.

Aku tidak akan membencimu, atau dendam padamu. Tidak akan. Kita tetap bisa berteman, kan? Aku mau mendengar ceritamu setiap malam layaknya kau berdongeng padaku. Berceritalah denganku, dan aku akan selalu ada untukmu… Aku mencin”

“Kamu lagi ngapain?” sepasang lengan mengagetkanku dengan melingkari leherku , “sendirian aja.” Belum sempat aku menoleh kini telingaku menjadi hangat oleh kecupan darinya.

“Nggak, aku abis nulis ini,” aku berhenti mengetik. “Menurut kamu gimana? Sini baca dong, masa pacarnya punya blog ngga dibaca,” aku bangkit seraya menyuruhnya duduk agar aku bisa duduk di pangkuannya. Kemudian, rangkaian paragraf yang baru saja aku buat tenggelam dengan aroma tubuh kami satu sama lain.

Assignment

Kakiku melangkah cepat menyusuri gang kecil yang kumuh. Sesekali aku merapikan rambutku yang tidak berarturan. Tiga kali udah ditelpon, kenapa ngga diangkat. Ah. Tepat di depan pagar kostnya, gelak tawa anak-anak membuyarkan lamunanku. Aku membuka pagar dan langsung masuk, sejenak mataku bertatap dengan mereka yang tengah duduk di warung depan kost ini. Aku tidak terlalu suka anak-anak, mereka bising dan bau. Apalagi yang bisa mereka lakukan selain menangis dan menyusahkan orang dewasa?

Koridor ini langsung menuju ke arah kamarnya yang terletak di paling ujung. Aku mempercepat langkahku. Saat melihat daun pintunya tampak terbuka, aku berlari kecil kemudian langsung terhenti saat melihat badannya yang sedang membungkuk lesu.

“Sayang,” aku melangkah masuk dan meletakkan beberapa bungkus makanan di atas kasurnya. Ia masih berada di balkon, syukurlah. Pemandangan yang tidak begitu buruk memancingku untuk memeluknya sebentar. “Makan yuk, aku udah lapar dari tugas kampus tadi.”

Tangannya kini merangkul lenganku yang mengalungi lehernya, “Maaf ya masih sering ngerepotin kamu, yuk makan, udah nungguin kamu dari tadi nih.” Ia menolehkan kepalanya dan mengecup pipiku. Ia bangkit kemudian masuk ke kamar sedang aku mengikutinya dari belakang. Kamarnya tidak begitu besar, hanya ada kasur, lemari serta beberapa tumpukan barang di salah satu sudut. Kami duduk dengan beralas kasur.

“Aku bawa mie goreng, nasi sama ini, milkshake kesukaan kamuuuuu,” aku mengeluarkan semua makanan dari plastik, sambil sedikit mencicipi makanan yang tak sengaja menempel di tanganku. “Oh iya, gimana kamu seharian? Maaf ya tadi ngga bisa bales, lagi rapat buat acara penerimaan maba gitu di kampus, jadi pada adu argumen.”

“Di situ dari tadi,” Faris menunjuk ke arah balkon. “Aku sambil cari ide, buat nulis juga.” Faris menjelaskan bahwa dirinya tertarik dengan dunia itu, ia sesekali mengunyah nasi dan mie goreng sambil menggerak-gerakkan tangan menjelaskan sesuatu. “Jadi, aku mungkin bakal nulis cerita dari sudut pandang orang itu, namun disisipin plot yang ngga ketebak.”

“Wah, yang ngga ketebak gimana?”

Ia mengambil milkshake yang masih berada di dalam plastik, “Misalnya nih,” perkataannya terpotong ketika mulutnya mengambil sedotan. “Bentar, yang.”

“Hahahaha, iyaaaa, makanya kamu makan dulu baru cerita. Ntar makanannya tumpah, aku ngga mau bersihin, wek,” aku membersihkan mulutnya yang belepotan. “Bentar ya, kamar mandi dulu.”

Aku bangkit dan menuju kamar mandi. Di kamar mandi hanya ada gayung serta ember untuk menampung air dari keran yang berkarat. Shampo serta sabun tersusun di sebuah rak kecil tepat di depan ember itu. Aku kembali dengan cepat, agar tidak membuat dirinya curiga. Satu bungkus mie goreng serta nasi telah dimakannya, kini ia bersandar ke dinding dengan tatapan ke arah pintu balkon. “Kamu kenapa? Cerita sama aku,” aku duduk tepat di sampingnya, tanganku mengenggam erat tangannya. “Eh iya, tadi gimana ide kamu?”

Faris kini menatap mataku. “Emmm, gini,” ia menegakkan sandarannya kemudian bercerita. “Ada perempuan, dia itu nulis cerita di blognya. Pembacanya pasti mikir itu cerita yang sedih, dan si perempuan juga merasa dikasihani. Terus aku ceritain dari awal, nah pas di akhir cerita, aku ceritain kalo dia itu nulis dengan keadaan senyam senyum, bahkan ditemani sama pacar barunya. Ngerti?”

“Bentar,” mataku menyorot mukanya dengan tajam. “Kamu engga nyepik aku, kan?”

“Ya engga dong, masa iya aku nyepik kamu.” Faris tidak bisa menahan senyumnya. “Nanti aku tulis, terus kasih tunjuk ke kamu. Kamu harus baca.”

“Iyaaaa, tulis yang banyak. Aku mau baca semua cerita kamu,” aku mencubit pipinya. Tiba-tiba raut wajah Faris berubah. “Lah, kenapa? Baru juga senyum tadi. Sakit ya aku cubit? Maafff.”

“Engga, kok, cuman kepikiran besok makan apa kalo kamu ngga ke sini,” ia menoleh ke arahku.

“Hahahaha, itu kode ya?” aku memukul bahunya. “Iya, besok aku ke sini lagi.”

“Maaf ya, aku ngerepotin kamu terus. Harusnya aku yang beliin kamu makanan.”

“Ngga apa-apa sayang, nanti kamu bisa, kok. Yang penting kamu semangat, ya?”

“Iya,” Faris memelukku dengan erat. Kemudian ia bertanya sesuatu yang cukup aneh, “Apa yang membuat kamu kuat sama aku?”

“Hah? Maksudnya?” Aku terpelongo. Dari cerita, kemudian sedih tentang makanan, dan menjadi puitis, anak ini maunya apa?

“Maksudnya, apa yang membuat kamu bertahan sama aku.” Faris mengulang pertanyaannya.

“Apa ya, sama kamu aku seneng. Aku jadi lebih kuat, kaya punya anak tau ngurusin kamu. Ya, itung itung latihan. Anak yang udah gede, jadi engga repot amat ngurusnya. Tinggal kasih makan, eh udah gede aja. Hahaha.”

Faris tersenyum, “Bisa aja kamu.”

“Kalo kamu, apa yang ngebuat bertahan sama aku?” aku berbalik menanyainya. “Hayoo apa?”

“Karena kamu sering ngasih aku makanan,” jawabnya dengan datar.

“APA?! Awas kamu ya,” aku melemparnya dengan sisa bungkus makanan yang tergeletak. “Aku ngambek nih, kamu sih.”

“Bercandaaaa, Nadia,” ia mengelus kepalaku. “Udah pacaran selama tiga tahun, masa iya alasan aku karena makanan doang. Jangan ngambek, ntar aku keluarin lagi nih makanannya.”

“Emang bisa?”

“Bisa dong,” Faris bertingkah seolah ingin memuntahkan makanan.

“JANGAN!” aku menghentikannya, walau berpura-pura, jika dia benar-benar muntah nanti mau tidur di mana. “Janji ya, jangan tinggalin aku?”

Dia menjawab dengan sebuah anggukan. Ia memunguti sisa makanan yang terjatuh di atas kasur dan memasukkannya ke bungkus makanan, kemudian membuangnya ke tong sampah di samping pintu. Aku memandangi kamarnya sejenak. Cat krim yang telah terkelupas di bagian atas, serta bekas paku yang memenuhi setiap sisi dinding. Aku harus bekerja lebih keras. Aku melangkah ke balkon, hembusan angin menusuk pakaianku. Aku menyilangkan kedua lenganku di depan dada, sementara mataku terpaku dengan sebuah gedung tinggi. Dia tidak begitu tinggi, namun yang menjadi daya tarik utama adalah sisinya dilapisi seperti kaca. Awan yang berarak di langit, terpantul bersih di sisi gedung tersebut.

Aku bertaruh, pasti banyak orang yang menatap gedung tersebut dengan waktu yang lama. Mengagumi keindahan serta struktur bangunan. Berapa lama pembangunannya, dan sampai kapan gedung itu dapat berdiri? Ibarat gedung, mungkin aku merupakan gedung tinggi, dengan sejutan korban yang diakibatkan olehnya.

Tanganku meraih handphone di saku flannel hitamku, kemudian mengirim pesan singkat  ke nomor di kontakku.

“Udah ditransfer belum? Cepat, ya, aku butuh banget nih.”

Pukul satu malam, mungkin aku akan tidur di sini. “Nad, udah malem, kamu tidur di sini aja, ya?” suara Faris memanggilku untuk masuk ke dalam.

“Iya, aku tidur di sini ngga apa-apa, kan? Besok aku udah balik lagi, hehehe.”

Aku masuk ke kamar kemudian menutup pintu rapat-rapat, layaknya sebuah masa lalu yang kelam. Aku melepas flannel hitamku dan merebahkan diri di kasur yang kecil ini. Hembusan nafas Faris di leherku seolah memberi irama konstan. Ia memelukku, sambil sesekali berbisik tentang masa depan. Aku tersenyum ketika mendengarnya, tentang bagaimana ia masih memiliki mimpi dan impian. Ia memiliki yang tidak dimiliki oleh orang lain.

Namun sayang, ia juga tidak memiliki apa yang orang lain punya.

Life Could be Dream

Tanganku meraih kapas putih ini. Rasanya dingin. Bukan dingin yang kelam, namun dingin yang berbahagia. Berjuta senyuman terpintal di setiap kapas putih ini. Sambil berpose santai, aku melihat jauh ke depan. Di bawah sana terdapat hamparan permadani hijau. Angin membuat kilauan yang berarak di permadani itu seiring garis miring.

Kaki yang bergelantungan terasa berat tertiup angin. Sinar matahari yang menembus celah awan seolah membuat pilar surga yang abadi. Beberapa cahaya jatuh tepat di mataku, menyilaukan dengan hangat. Bernostalgia di sini mungkin tidak akan bisa, karena pemandangan di sini lebih indah daripada memori yang ada di benakku. Aku tidak ingat bagaimana bisa berada di atas sini.

Continue reading

I Love You

Ini sebuah cerita dari salah satu sudut kota, di mana kegembiraan, kesedihan dan pengkhianatan begitu dekat jaraknya. Tentang bagaimana orang bertahan, dengan sesuatu yang dipercayainya.

Gedung-gedung seolah berlomba siapa yang dapat mengumpulkan bintang paling banyak. Melupakan daratan hanya untuk sesuatu yang jauh di sana, bahkan yang jaraknya masih sangat amat jauh. Jika dipikir lagi, siapa aku berkata seperti itu. Seorang pria yang termenung di tempat rendah seperti ini tidak layak berkata hal tentang gedung. Masuk saja tidak pernah.

Aku memandang paduan karya manusia dan tuhan sudah sekitar empat jam. Dari balkon kost ini, aku bertumpu pada pagar sambil berkhayal babu. Kenapa gedung dirubuhkan untuk dibangun gedung lainnya? Apa karena kurang tinggi? Kurang dekat dengan bintang? Tidak ada lagi yang mendatanginya? Berarti jika kita tidak cukup berarti, kita dapat dirubuhkan oleh yang lainnya? Bahkan lapisan beton dan baja seperti itu terbalut dengan cerita sentimentil.

“Udah 25 tahun, tapi belum bisa buat apapun,” hembusan nafas membuyarkan lamunanku. Aku meraih cangkir kopi di atas meja sebelahku. Bukan untuk menghapus dahaga, namun hanya untuk menelan kata-kata kasar yang akan kulontarkan. Setelah meletakkan kembali cangkir, aku kembali menumpukan kepala di pagar besi yang dingin, sambil meratapi Ibukota.

Sidang yang tertunda, tunggakan kost, serta kekasih yang tidak bisa mendukungku. Ah, lengkap sudah. Siapa bilang mempunyai kekasih itu menyenangkan? Belum tau saja mereka. Bahwa aku mempertaruhkan segalanya untuknya, sedangkan dia? Mempertaruhkan aku untuk taruhan bersama teman-temannya. Sangat rendahan.

Pikiranku kembali terbang ke memori yang kelam, perkataannya seolah menamparku setiap kali mengulang kelas. “Dengar, jangan pulang sebelum dapat gelar sarjana.” Ini nyata, masih ada orang yang lebih mementingkan gelar daripada darah dagingnya sendiri.

Layar handphone menyinari wajahku, pukul sepuluh malam, dan dia belum membalas pesanku? Meluangkan waktu lima menit dari empat jam yang aku tungu, apa itu berlebihan?

Aku mengalihkan pandangan ke langit yang telah menjadi kelabu. Kerlip bintang tak lagi bertebaran, hanya awan yang menutupi kemegahan bintang-bintang. Mungkin hujan akan segera turun, lebih baik aku bergegas.

Puas menghabiskan waktu berklise ria. “Aku memang tidak berharga, lebih baik aku mati,” aku menatap ke tanah di bawah, jaraknya begitu dekat. Aku harus naik ke atas lagi agar dapat langsung mati. Cih, untuk mengakhiri hidup saja begitu merepotkan. Heran bagaimana orang bunuh diri begitu bersemangat ketika dia tidak lagi punya semangat.

Aku masuk dan menapaki anak tangga sampai ke lantai empat. Aku tidak pernah seambisius ini. Jika aku mempunyai banyak nyawa, mungkin aku akan bunuh diri setiap seminggu sekali. Hanya sekedar membangkitkan gairah untuk bersemangat seminggu ke depannya.

Aku telah di depan pintu atap, kuputar kenopnya kemudian melangkah keluar. Angin malam tidak pernah sesegar ini. Begitu banyak yang aku lewatkan, kenapa harus pada saat ini aku begitu tenang.

Langkah demi langkah mendekatkanku dengan tepi bangunan. Tidak ada lagi pagar, secangkir kopi dingin, atau sebuah pesan singkat. Semuanya telah tiada. Setengah kaki kiriku kini telah kehilangan alas. Aku harus jatuh dengan kepala lebih dahulu.

Baru saja aku ingin skydiving untuk pertama kalinya, handphone-ku bergetar. Aku merogoh saku celana, “Ah, kenapa lupa matiin hape, sih.”

Aku langsung hilang kendali, jatuh dengan pantat lebih dahulu tidak pernah senyaman ini. Sebuah senyuman tersimpul di wajah murungku. Sudah berapa lama aku tidak mendapat kehangatan seperti ini.

“Ris, jangan tidur dulu, ya. Aku lagi ada tugas nih di kampus, sama temen juga. Nanti aku ke kost kamu bawain makanan. I love you.”

Kau jarang berkata seperti itu. Namun kata seperti itu selalu berhasil mencegah pisau, atau jurang yang begitu dekat denganku. Sudah tiga kali kau menyelamatkanku. Terima kasih, Nadia.

Sebuah kecupan mendarat di bibirku. Sudah pukul sepuluh lewat lima, namun aku belum mau melepaskan dekapanku. Deru nafas berlomba seirama dengan keringat yang membanjiri tubuh kami. Ia melepaskan dekapanku kemudian bangkit seraya mengambil pakaiannya kembali, “Udah di-sms si Faris itu? Biar dia ngga ngira kita lagi berduaan.”

“Tenang, udah aku sms, kok. Kamu cepat banget baliknya, belum juga selesai akunya,” aku bangkit dengan menutupi tubuhku dengan selimut berwarna putih ini. “Nanti sampai rumah, sms aku ya.”

Mei

Aku tidak tau ada sesuatu yang lebih hangat daripada mentari di pagi hari.

Sentuhanmu membangunkanku, sedetik sebelum aku berhasil mencium bibir merahmu di dalam mimpiku. Ah, padahal sedikit lagi. Biar saja dalam mimpi, asal itu terjadi. Aku tau kau tidak mau melakukannya. Aku paham alasannya, aku pun tidak ingin. Suaramu terus terngiang setiap aku bertanya, “Boleh cium, nggak?”

Nggak.’

Mungkin, kau takut aku akan berkurang mencintaimu ketika aku telah menciummu. Ah, aku tidak sebercanda itu. Walau tubuhku kecil serta tak terlalu menawan, tentu aku tidak serendah itu. Namun aku tau, kau lebih tidak mau membuatku lebih rendah, karena itu kau tidak mau melakukannya.

Aku senang ketika kau menentangku, berkata bahwa hal itu tidak baik. Karena jika tidak denganmu, dengan siapa lagi aku akan berargumen dengan logika, kemudian sebuah pelukan dapat meluluhlantakkan semua perkataanku.

Kau mengajariku, bahwa hubungan merupakan sesuatu yang di luar nalar manusia. Setiap pemikiran, intuisi, tidak akan bekerja di sini. Kau harus mendiskusikannya. Bukan untuk melihat mana yang benar, namun untuk melihat bagaimana sudut pandang dari kedua sisi.

Dulu aku berpikir, bahwa kau tidak menginginkan hal seperti itu. Setiap kita berdua, hanya kita berdua, aku berusaha menggenggam tanganmu, namun, kau menarik secara halus. Atau saat aku mengelus pipimu, kau menatapku seolah mengingatkan. Namun, sekali lagi kau membuat aku menelan semua pemikiranku sendiri.

Kau menggandeng tanganku, mencubit pipiku bahkan merebahkan kepalamu sembari bercerita masa kecil, atau sekedar menertawakan orang yang sedang di sekitar kita. Kau lakukan itu di depan orang-orang, termasuk teman-temanmu.

Rasa hangat menyeliputi, seraya mengelus pipimu itu. Lebih terkejutnya ketika aku berharap kau tersenyum kepadaku, ternyata kau menciumku.